Kita
sudah banyak tahu tentang Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api atau
Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, tapi banyak yang belum
mendengar tentang pertempuran di Sukabumi Jawa Barat, yang juga sangat
merugikan bagi pasukan Inggris (sekutu) maupun Belanda. Ini adalah
cuplikan dari Buku Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946:Seandainya Eddie Soekardi dan adiknya Harry Soekardi tidak diculik Kempetai dari rumah kediamannya di Gang Ijan Bandung untuk dijadikan tentara PETA (Pembela Tanah Air), mungkin pimpinan penyerangan konvoi di Sukabumi-Cianjur bukanlah mereka. Mereka dikirim ke Bogor untuk digembleng menjadi calon perwira PETA. Ide pembentukan PETA sendiri berdasarkan perundingan rahasia antara Otto Iskandar Dinata, Iyos Wiriaatmaja, dan R. Gatot Mangkupraja. Mereka berpikiran jauh ke depan bahwa bangsa Indonesia memerlukan kader-kader militer kelak. Pada tanggal 7 September 1943 Gatot Mangkupradja mengirim surat kepada penguasa militer Jepang agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu Jepang di garis depan. Kemudian pada tanggal 3 Oktober 1943 Letnan Jenderal Kumakici Harada memaklumkan pembentukan PETA (hal 36).
Peristiwa penghadangan konvoy sekutu di jalur Sukabumi-Cianjur tahun 1945-1946 ini disebut dengan berbagai sebutan. Ada yang menyebut Perang Bojongkokosan, Palagan Bojongkokosan, Peristiwa Bojongkokosan, atau lebih menyeluruh seperti judul buku yang dibahas. Simpang siurnya penyebutan resmi mungkin diakibatkan “terlupakannya” peristiwa besar ini dalam buku atau catatan Sejarah Indonesia berbeda misalnya dengan penyebutan resmi seperti Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api, atau Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya. Saya setuju dengan judul buku, karena pertempuran terjadi dua kali yaitu 9-12 Desember 1945 dan 10-14 Maret 1946 keduanya di jalur Sukabumi-Cianjur. Bojongkokosan hanyalah salah satu tempat peristiwa yang terletak di sebelah barat laut dari kota Sukabumi. Tidak bisa dikesampingkan peran besar Batalyon III Resimen TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Sukabumi yang berkedudukan di Cianjur.
Perang Konvoi Pertama
Tentara Inggris salah satu negara pemenang PD II mengemban misi internasional sekutu yaitu: perlucutan dan pemulangan tentara Jepang, serta pengiriman perbekalan dan pemulangan APWI. Khusus mengenai urusan di bekas Hindia Belanda mereka membentuk AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Celakanya mereka terbebani oleh Civil Affairs Agreement yang ditandatangani Belanda dan Inggris tanggal 24 Agustus 1945 yang intinya “Pemerintah Inggris akan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda atas wilayah Hindia Belanda”. Ini bertentangan dengan Atlantic Charter (14-08-1941) yang ditandatangani Inggris “Bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri”. Pada tanggal 29 September 1945 bersamaan dengan kedatangan Panglima Skadron Penjelajah V Inggris Laksamana Muda W.R. Patterson turut pula Ch. O. van Der Plas, Wakil Kepala NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk membentuk Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.
Hilir mudiknya konvoi sekutu Jakarta-Bandung yang melewati Sukabumi tidak menghiraukan kesatuan-kesatuan TKR di wilayah yang dilewati. Padahal misi AFNEI sesuai kesepakatan harus melibatkan TKR. Akhirnya TKR Resimen III Sukabumi di bawah Letkol Soekardi waktu itu masih 29 tahun ingin memberi pelajaran kepada Sekutu. Dilakukanlah herdislokasi empat Batalyon. Batalyon I pimpinan Mayor Yahya B. Rangkuti bersiaga di Jalan raya Ciawi-Cigombong-Cibadak (18 km) sebagai pemukul pertama. Pemukul kedua adalah Batalyon II pimpinan Mayor Harry Soekardi bersiap mulai dari Cibadak hingga Sukabumi bagian barat (18 km). Sedangakan Batalyon IV pimpinan Mayor Abdulrachman ditempatkan di jalan raya Sukabumi bagian timur hingga Gekbrong (15 km). Adapaun Batalyon III pimpinan Kapten Anwar berjaga mulai Gekbrong hingga Ciranjang Cianjur (30km). Dengan kekuatan l.k. 3000 personil dibantu laskar perjuangan dan rakyat mereka bersiaga menunggu konvoi Sekutu yang datang dari arah Jakarta.
Konvoi perbekalan APWI yang dikawal Batalyon 5/9 Jats (Satuan tentara Inggris yang berasal dari Punjab-India) terdiri dari 150 truk yang dikawal Tank Sherman, Panser Wagon dan Brencarrier tanggal 9 Desember 1945 sore memasuki Cicurug. Kepala konvoi mendapat serangan pertama di Bojongkokosan di antara dua tebing, sedangkan ekor konvoi berada di Cicurug mendapat serangan kemudian setelah timbul kepanikan. Akibat penyergapan tersebut keesokan harinya tanggal 10 Desember pagi-pagi RAF memborbardir Cibadak untuk balas dendam. Bombardemen berlangsung hingga pukul 16.00. Dalam buku The Fighting Cock (Doulton, 1951) disebutkan bahwa ini merupakan serangan udara paling dahsyat dalam “perang” di Pulau Jawa. Adapun Batalyon Jats yang tersisa menyatukan diri dan beristirahat di tengah kota Sukabumi.
Pada tanggal 11 Desember 1945 Markas Sekutu di Cimahi mengirim balabantuan Batalyon 3/3 Gurkha Rifles. Tetapi pasukan ini dihadang Batalyon III di sepanjang Jalan Raya Cianjur yang menggunakan taktik “Hit and Run” dengan disiplin tinggi. Meskipun Batalyon Gurkha Rifle dan Jats dapat bergabung pada malam harinya di kota Sukabumi, mereka memohon untuk dapat melanjutkan perjalanan ke Bandung dan tidak diganggu. Akibat peristiwa ini Pemerintah Inggris mendapat kecaman dari berbagai pihak. Akhirnya AFNEI ingin melibatkan TKR untuk mengemban misi internasionalnya. Ini artinya pengakuan terhadap kesatuan TKR dan kedaulatan RI.
Perang Konvoi Kedua
Tidak senang dengan keberhasilan diplomasi RI dengan Sekutu, NICA
membujuk AFNEI agar memindahkan pusat kekuatan militernya ke Bandung.
Sebelum Indonesia merdeka Belanda telah memindahkan Kementrian
Peperangan (DVO) dan markas tentaranya ke Bandung, bahkan Bandung telah
dipersiapkan untuk Pusat Pemerintahan Hindia Belanda. Dalam pikiran
mereka untuk menguasai Indonesia, maka harus dikuasai dahulu Jawa Barat
terutama Bandung. AFNEI terbujuk bahkan membiarkan pendaratan
besar-besaran tentara Belanda di Tanjung Priuk.
Resimen III TRI Sukabumi kembali ditugaskan menggagalkan rencana AFNEI.
Sekutu kembali menggunakan jalur Sukabumi-Bandung, mereka menduga atau
mungkin menganggap remeh jalur ini sudah “bersih dan aman”. Tetapi
tanggal 10 Maret 1946 Konvoy Tentara Sekutu dari Batalyon Patiala
(tentara sewaan berasal dari suku Patiala India) sore hari tepat di
jalan raya Cipelang mereka mendapat serangan dari Batalyon II Resimen
III TRI Sukabumi. Bagian ekor konvoi dihajar oleh Batalyon I. Ketika
memasuki kota Sukabumi mereka mendapat serangan batalyon IV. Kejadian
ini mirip dengan Perang Konvoi Pertama tiga bulan sebelumnya. Sekutu
tidak mengambil pelajaran. Tanggal 11 Maret malam kembali gabungan
pasukan Batalyon I , II, dan IV mengadakan serangan kepada Batalyon
Patiala yang terisolasi di tengah kota Sukabumi. Mereka memadukan taktik
“hit and run” dan “kirikumi” yaitu serangan yang dilakukan secara
mendadak kemudian menghilang dan dilakukan secara rotasi oleh berbagai
kompi yang dibantu laskar perjuangan dan rakyat. Pada waktu subuh
serangan berakhir.
Tanggal 12 Maret 1946 Markas Tentara Sekutu di Bogor mengirimkan
balabantuan pasukan tank Squadron 13 Lancer yang dikawal Pasukan
Grenadier. Mereka tiba di Cikukulu Sukabumi sore hari dan mendapat
serangan dari Batalyon I dan II. Akhirnya pasukan penolong ini minta
tolong kepada pasukan yang ditolong. Sebagian pasukan Patiala dikirim
untuk menolong Pasukan Grenadier, tetapi di tengah jalan mereka mendapat
serangan lagi dari TRI. Bersamaan itu pula dari Markas Tentara Sekutu
di Bandung mengirim Pasukan Rajputana Rifles. Batalyon III yang
berkedudukan di Cianjur tidak membiarkan mereka melenggang percuma.
Mereka dapat memasuki kota Sukabumi setelah melalui pertempuran berat
dan babak belur yang juga diserang oleh kompi-kompi dari Batalyon IV.
Setelah 4 satuan tidak berdaya Inggris mengirimkan kembali pasukan
Brigade I dari markasnya di Bandung yang dipimpin Brigadier N.D.
Wingrove tanggal 13 Maret 1946. Pasukan ini terdiri dari 400 kendaraan
termasuk lapis baja dan artileri berat serta 2500 personil yang terdiri
dari tentara Inggris dan tentara sewaan dari India. Brigade I tertahan
di Ciranjang dan harus bermalam karena mendapat serangan hebat dari
Batalyon IV pimpinan Kapten Anwar di jembatan Cisokan.
Tanggal 13 Maret 1946 pukul 20.00 empat kesatuan Tentara Sekutu yang
sudah berkonsolidasi di tengah kota Sukabumi kembali mendapat serangan
kirikumi. Mereka dalam keadaan terjepit dan terkepung sulit melakukan
balasan. Malam itu dirasakan sebagai malam penebar maut. Dr. Hasan
sadikin yang menjadi kepala rumah sakit di Sukabumi melaporkan tidak ada
pihak TRI maupun rakyat pejuang yang gugur. Hanya 12 orang saja yang
terluka ringan pada serangan itu. Dini hari tanggal 14 Maret 1946
pasukan Brigade I Inggris melanjutkan perjalanan untuk membantu konvoi
yang terkepung. Sepanjang perjalanan mereka mendapat serangan dari
Batalyon III dan IV. Setelah 5 kesatuan itu dapat berkumpul kemudian
meninggalkan kota Sukabumi menuju Bandung. Sepanjang perjalanan mereka
mendapat gangguan dari penembak jitu Batalyon IV dan III Resimen III
TRI. Empat hari empat malam sekutu menderita kekalahan beruntun,
walaupun ditopang dengan persenjataan lengkap, kendaraan lapis baja,
artileri berat, dan pengintai udara RAF. Dan jangan lupa mereka adalah
tentara yang berpengalaman di berbagai medan tempur Perang Dunia II.
Dipublikasikan di : forum.detik.com
Sumber :
Buku Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946
Penyusun : Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi, dan Jajang Suryani
Penerbit : Sukardi LTD, PT - Jakarta
Tahun terbit : 1997, Cetakan pertama
Tebal Buku : 418 halaman
Foto-foto pertempuranya:
Antara Bogor - Sukabumi
Berhadapan dengan TNI
Ledakan
Tembak menembak dengan TNI
TNI yang gugur di medan perang
Belanda mencari Ranjau yang ditanam TNI
Menjinakkan ranjau yang dipasang TNI
lanjut foto-foto...
Takut lewat Jembatan banyak ranjau, buat jembatan darurat
Tentara sekutu jalan kaki melewati barikade
dropping amunisi dan makanan lewat udara
Sekutu memungut Perbekud
Ambulans sekutu mengangkut prajurit yang luka atau tewas
Prajurit sekutu di RS Sukabumi
perbatasan kota Sukabumi
Sekutu masuk kota Sukabumi
Rakyat mengungsi
Pertempuran disekitar stasiun KA Sukabumi
sisa-sisa pertempuran di Sukabumi
Sumber: post Balrock
Comments
Post a Comment
Berikan komentar Anda, dengan bantuan Anda kami tetap ada