Skip to main content

Interior dengan Cahaya Alami

Oleh Atok Sugiarto

Setiap pemotret, siapa pun dia, dengan objek apa pun, tentu selalu berkeinginan menghasilkan foto yang baik serta mempunyai nilai estetik. Dan, untuk menghasilkan foto yang demikian tentunya tidak dilakukan dengan hanya membidikkan kamera lalu asal menekan tombol pelepas rana kamera, melainkan juga perlu menyutradarai bila objek berkaitan dengan makhluk hidup, manusia khususnya. Pemotret perlu menara dan mengatur bila objek adalah benda-benda mati, sesuai dengan hukum komposisi dan pemilikan sudut pemotretan yang baik.

Satu hal yang tak kalah pentingnya untuk menghasilkan foto yang baik dan bernilai estetis adalah sumber cahaya. Apakah itu cahaya alami dari matahari atau cahaya buatan dari lampu spot maupun lampu kilat. Namun, dalam hal penggunaan cahaya, sangat berkaitan erat dengan tujuan pemotretan serta foto seperti apa yang hendak dicapai.


Dalam kaitan memotret interior atau ruang, maka sebagai pemotret kita perlu melihat terlebih dahulu interior yang hendak dipotret. Apakah interior itu akan difoto secara seadanya, tanpa perlu diatur dan ditata ulang, mungkin juga cukup dipotret dengan menggunakan cahaya seadanya yang berada di dalam ruangan, atau perlu ditata ulang sesuai nilai keindahan foto (bingkai pemotretan) berdasar cahaya buatan atau lampu kilat.


Bila dalam hal ini pemotretan interior diyakini dengan menggunakan cahaya alami, maka waktu pemotretan hendaknya menjadi perhitungan tersendiri dan dapat dijadwal dengan baik. Khusus untuk pemotretan interior yang menggunakan cahaya alami (langsung atau tidak), di mana matahari hanya baik bagi pemotretan pada saat-saat tertentu saja, maka pemotretan dapat dilakukan dengan pilihan waktu yang tepat. Sehingga dapat menghasilkan foto yang baik dari sisi pencahayaan, khususnya cahaya alami matahari.

Karena itu, sebelum melakukan pemotretan, seorang pemotret yang telah berpengalaman akan melakukan peninjauan lokasi atau survei lapangan. Survei yang dilakukan agar mendapatkan pencahayaan alami dari matahari yang baik itu pun, dalam hal ini bisa memakan waktu beberapa hari. Karena untuk mendapatkan cahaya alami matari yang baik tidak mudah.

Sebagai acuan, meski matahari selalu bersinar dan tepat menyapa kehidupan tiap hari, efek sinar yang dihasilkannya anatara hari ini, hari sebelumnya, dan hari esoknya belum tentu sama. Karena itulah penentuan waktu untuk betul-betul mendapatkan sinar matahari yang terbaik bisa memerlukan waktu pengamatan hingga beberapa hari. Seandainya pemotretan dilakukan dengan menggunakan cahaya buatan atau lampu kilat pun, tetap saja dibutuhkan waktu yang lumayan lama, yaitu dalam hitungan jam.

Bagi pemotretan interior untuk keperluan rubrik khusus dalam suatu media cetak, memang dua hal mengenai pencahayaan tersebut tidaklah mengikat. Sebab media cetak sering tidak mengenal toleransi waktu yang demikian lama. Hal pencahayaan yang dikemukakan di atas hanya cocok untuk pemotretan interior untuk keperluan suatu iklan atau sejenisnya.


Persiapan
Idealnya dalam melakukan suatu pemotretan interior yang memerlukan banyak peralatan pendukung diperlukan kehadiran asisten. Misalnya asisten untuk penata artistik, asisten penata lighting, atau juga asisten fotografer. Jumlahnya relatif, bisa satu atau dua orang, sehingga dalam hal persiapan peralatan pemotretan atau pun penataan lighting dan setting lokasi pemotretannya dapat berjalan dengan baik, cepat dan lancar. Dari beberapa pengalaman melakukan pemotretan interior tanpa bantuan seorang asisten, memag menjadi sangat repot. Dan, waktu pelaksanaan pemotretan pun menjadi lebih lama.

Namun agar tetap sukses dalam melakukan pemotretan dan apa yang menjadi tujuan pemotretan dapat diwujudkan dengan baik, diperlukan langkah-langkah yang baik. Langkah-langkah itu dalam hal ini adalah persiapan pemotretan. Persiapan itu bisa berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut peralatan, khususnya peralatan fotografi. Dengan harapan segala sesuatu yang diperlukan menyangkut kelancaran pemotretan tidak ada yang kurang atau tertinggal.

Sekalipun tugas pemotretan yang diberikan mendadak dan membutuhkan waktu yang cepat seperti umumnya untuk keperluan media cetak, pemotretan harus tetap berjalan dengan baik dan tak kurang suatu apa pun. Sarana dan kelengkapan standar untuk pemotretan interior yang mengandalkan cahaya alami matahari di antaranya adalah:
- Dua kamera SLR 35 mm
- Sebuah lensa zoom 20 - 35 mm dan sebuah lensa PC 28 mm.
- Sebuah tripod kamera yang cukup kuat dan kabel release.
- Pengukur cahaya (flash meter)
- Beberapa rol film berbutir halus, baik slide maupun negatif.
- Reflektor yang terbuat dari styrofoam.

Dengan persiapan dan kesiapan peralatan seperti itu, dengan asumsi memotret interior tanpa menggunakan lampu kilat, maka pelaksanaan pemotretan pun dapat segera dilakukan dengan konsentrasi penuh tanpa sesuatu yang menghambat.


Teknis Pemotretan
Pada pemotretan yang berlangsung dadakan untuk keperluan media cetak, yang selalu dibatasi dengan dead-line, memang hampir selalu bisa dilakukan tanpa persiapan. Karena itu, pemotret dengan sigap harus segera dapat menentukan pilihan sudut pemotretan yang baik atau sesuai dengan hasil akhir yang hendak dicapai. Meskipun demikian, sebaiknya tetap harus dilakukan survei lapangan kecil-kecilan. Karena itu gunakan waktu seefisien mungkin ketika telah berada di lokasi pemotretan.

Pada pemotretan yang terencana dan yang waktunya dapat diperjanjikan, lakukan dengan memilih atau menentukan waktu pemotretan pada pagi hari.
 
Hal ini atas dasar pertimbangan bahwa pemotretan yang mengandalkan cahaya matahari masih bisa berharap dapat memanfaatkan cahaya yang kadang masuk atau menembus dalam ruangan.

Karena hasil akhir yang dikehendaki adalah foto dengan pencahayaan alami dengan sinar matahari atau sinar dalam ruangan yang apa adanya, maka mengukur pencahayaan pada semua sudut yang terlihat dalam bingkai pemotretan harus segera dilakukan. Bila terdapat satu sisi yang terlalu gelap karena kurang mendapat sinar langsung, maka tambahkan reflektor untuk mengisi cahaya yang kurang.

Untuk pemotretan seperti ini pilihan bukaan diafragma kecil (angkanya besar) misalnya f/16 atau f/22 bisa lebih diutamakan, dengan harapan mendapatkan ruang tajam yang luas dan maksimum. Sehingga objek yang berada dekat dengan kamera hingga yang jauh masih tampak tajam.

Kesulitan menghadapi pemotretan yang objeknya adalah benda mati, memang tidak terlalu banyak. Yang utama adalah mengenai masalah distorsi di mana pemotretannya hampir selalu menggunakan lensa sudut lebar.

Pada batas toleransi yang tidak terlalu mengganggu, distorsi perspektif memang sering sengaja dibiarkan karena dapat membuat foto semakin menarik - tampak aneh. Namun jika dikehendaki untuk dihilangkan atau dikurangi, maka distorsi dapat dikurangi dengan mencari sudut pemotretan yang lebih tinggi, setidaknya sejajar dengan ruangan.

Pada beberapa kejadian distorsi perspektif yang sangat mengganggu juga dapat dinetralisasi dengan bantuan lensa PC (perspective correction).

Kesulitan lain memotret interior adalah jika ruangan yang ada tidak terlalu cukup cahaya, sehingga harus dipotret menggunakan film ISO tinggi misalnya film ISO 400, dengan penggunaan pencahayaan panjang. Atau, dengan teknik double expose, yaitu melakukan dua kali pengeksposan.

Karena hampir bisa dipastikan suatu ruangan tidak akan terlampau gelap sinarnya, maka tindakan darurat menggunakan film ISO tinggi atau pencahayaan dua kali bisa saja tak perlu dilakukan. Artinya cukup melakukan pemotretan menggunakan film ISO sedang, mungkin juga yang rendah seperti film ISO 100 dengan teknik long exposure atau pencahayaan panjang/ lama, sehingga kurangnya cahaya dalam pemotretan sudah cukup dapat diatasi.

Tetapi ada kelemahan dalam penggunaan teknik pencahayaan panjang, misalnya 2, 4, atau 8 detik, mungkin juga dengan menggunakan fasilitas B yang waktu pencahayaannya bisa diatur lebih lama sesuai keinginan. Yaitu timbulnya efek resiprositas pada film, di mana keseimbangan warna menjadi terganggu dan menyulitkan pada saat pencetakan. Namun hal itu masih juga dapat diatasi dengan berbagai cara koreksi warna pada waktu mencetak, sehingga diperoleh hasil cetakan foto dengan warna mendekati normal.

Selain hal-hal tersebut, tak banyak ditemukan kesulitan yang berarti.
 
Artinya memotret interior yang berhubungan dengan benda mati atau diam tidak sesulit bila menghadapi objek yang mengandung gerak. Keberhasilan pada pemotretan interior sesungguhnya juga lebih ditentukan oleh kemahiran pemotret dalam menentukan pilihan sudut pemotretan dan efek pencahayaannya sekalipun itu menggunakan cahaya alami matahari atau penyinaran dalam ruangan yang seadanya.

Tentu faktor lain pendukung keberhasilan pemotretan, interior khususnya masih banyak lagi. Tetapi yang paling utama adalah dua hal tersebut. Karena itu dapat dijadikan pegangan untuk keadaan darurat di mana pemotretan interior dilakukan dadakan dengan tanpa menggunakan lampu kilat. Artinya pemotret tidak perlu khawatir untuk sepenuhnya bertumpu pada pencahayaan seadanya.

Karena dengan beberapa cara yang sederhana semua masalah yang ada dapat diatasi dengan mudah. Bahkan sering mampu menghasilkan foto yang lebih baik daripada foto interior yang menggunakan lampu kilat studio atau cahaya buatan lain. Karena memang selalu ada keindahan yang dipancarkan dari alam.*

Comments

Post a Comment

Berikan komentar Anda, dengan bantuan Anda kami tetap ada

Popular posts from this blog

10 Taman Nasional Terindah di Dunia

1. Snowdonia National Park, Wales, Great Britain Taman nasional Snowdonia yang terletak di Wales, Inggris Raya ini mempunyai luas sekitar 2,170 km2. Taman nasional ini teretak di ketinggian 1,085 m di Gunung Snowdon. Perlu dikeahui, Snowdon adalah gunung tertinggi di inggris. Taman Nasional ini mempunyai pemandangan yang sangat indah, dan memberikan kesan "damai" kepada para pengunjungnya.

Spontaneous Human Combustion

Pada tanggal 2 November 2009 kemarin, mayat seorang wanita ditemukan di sebuah trailer di Brevard County, Florida. Mayat itu berada dalam kondisi habis terbakar. Tapi anehnya, benda-benda di dalam trailer di dekat mayat sama sekali tidak terlihat hangus. Setelah lama tidak terdengar, apakah ini kasus terbaru Spontaneous Human Combustion ? Saya tidak bisa menceritakan soal perkembangan kasus wanita ini karena saya tidak bisa menemukan berita mengenainya lagi. Tapi saya bisa menceritakan kepada anda mengenai Spontaneous Human Combustion. Karena itu sebelum memulainya, saya ingin memberikan sedikit peringatan. Tulisan ini berisi deskripsi dan gambar yang tidak menyenangkan untuk dibaca dan dilihat. Jadi jika anda tidak ingin melihatnya, jangan melanjutkan membaca tulisan ini. Tapi saya percaya pasti rasa ingin tahu kalian akan membuat kalian terus membaca. Baiklah, saya akan mulai bercerita. Spontaneous Human Combustion (SHC) atau pembakaran spontan manusia adalah fenomena keti...

15 headlines surat kabar yang menjadi sejarah

Spoiler for New York Times: "Titanic Karam setelah 4 jam menabrak gunung es" [16 April 1912 : ]